Motinggo Boesje Sang Penulis Novel Tujuh Manusia Harimau Skip to main content

Motinggo Boesje Sang Penulis Novel Tujuh Manusia Harimau

Motinggo Boesje merupakan nama pena dengan nama lahir sebenarnya adalah Bustami Djalid. Karya-karyanya banyak diterjemahkan ke bahasa asing, antara lain bahasa Ceko, Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Korea, Jepang, dan Mandarin. Di taman kota Seoul, Korea Selatan, namanya terpahat indah di antara 1.000 penyair dunia.

Motinggo Boesje Sang Penulis Novel Tujuh Manusia Harimau
Motinggo Boesje Sang Penulis Novel Tujuh Manusia Harimau/ Foto Ilustrasi: instagram.com/katalogalerioma
Salah satu karyanya yaitu Tujuh Manusia Harimau (1987) yang diangkat menjadi sebuah sinetron di salah satu satsiun swasta , yang sedang hangat dan ramai menghiasi layar televisi bertemakan manusia yang mempunyai kekuatan lebih.

Kitab Serial Tujuh Manusia Harimau
Jilid 1 :Pantang Berdendam
Jilid 2 : Gadis Sakti
Jilid 3 :Murid Durhaka
Jilid 4 : Misteri Tirai Setanggi
Jilid 5 : Rahasia Kitab Tujuh
Jilid 6 : Aji Melati
Jilid 7 : Pendekar Wanita Buta
Jilid 8 : Amukan Pendekar Edan
Jilid 9 : Pedang Ratu Klabang
Jilid 10 : Pendekar Aneh Muka Aneh


7 Manusia Harimau merupakan sebuah sinetron yang menceritakan tentang manusia harimau produksi SinemArt yang ditayangkan RCTI. Sinetron ini diangkat dari Serial novel Tujuh Manusia Harimau karya Motinggo Boesje. Pada tahun 1986, jilid pertama dari novel tersebut telah diadaptasi menjadi film 7 Manusia Harimau. 

Tujuh Manusia Harimau menceritakan tentang seorang guru bernama Gumara (Samuel Zylgwyn) yang minta ke dinas untuk dipindahkan ke sebuah desa di Bengkulu. Saat di Kecamatan Kayu Lima, ia merasakan udara dan alam yang cocok dengan habitatnya. Menurut neneknya, itu adalah tempat lahir ayahnya yang bernama Peto Alam.

Ayah dan ibunya adalah keturunan ketiga manusia harimau, dan ia merupakan keturunan keempat. Ia menganggap itu hanyalah mitos belaka.

Para keturunan manusia harimau mulai mencurigai bahwa Gumara adalah manusia harimau ketujuh yang selama ini mereka tunggu untuk menyempurnakan kelompok mereka.

Gumara juga harus dihadapkan kepada dua gadis cantik, Karina (Syahnaz Sadiqah) dan Pita Loka (Ochi Rosdiana). Mereka keturunan manusia harimau, maka keduanya memiliki kesaktian dan pintar. Mereka berdua juga bersekolah di tempat Gumara mengajar. Gumara terlibat lebih dalam di lingkungan Kumayan.

Awalnya ia hanya ingin menjadi guru yang mengajar fisika dan matematika serta mengenal sejarah hidup silsilah keluarganya, tetapi ternyata kehadirannya di Desa Kumayan menimbulkan kemelut yang berkelanjutan.


Editor: Heru.my.id

Sumber: Net
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar yang sesuai dengan topik postingan. Terima Kasih.
Buka Komentar
Tutup Komentar